سنن الدارقطني ٣٩٥٧: نا أَبُو عَمْرٍو يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ يُوسُفَ بْنِ خَالِدٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمُقَوِّمُ , نا صَغْدِيُّ بْنُ سِنَانٍ , عَنْ مُظَاهِرِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَلَاقُ الْعَبْدِ تَطْلِيقَتَانِ وَلَا تَحِلُّ لَهُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا وَقُرْءُ الْأَمَةِ حَيْضَتَانِ وَتَتَزَوَّجُ الْحُرَّةُ عَلَى الْأَمَةِ وَلَا تَتَزَوَّجُ الْأَمَةُ عَلَى الْحُرَّةِ»
Sunan Daruquthni 3957: Abu Amr Yusuf bin Ya'qub bin Yusuf bin Khalid menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Abdul Aziz Al Muqawwim menceritakan kepada kami, Shughdi bin Sinan menceritakan kepada kami dari Muzhahir bin Aslam, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Talaknya hamba sahaya adalah dua talak, dan (setelah itu istrinya) tidak lagi halal baginya kecuali setelah menikah dengan suami lainnya. Sucinya hamba sahaya adalah dua kali haid. Wanita merdeka boleh dimadu dengan hamba sahaya (yakni menikahi wanita merdeka setelah memperistri hamba sahaya), tapi hamba sahaya tidak boleh dimadu dengan wanita merdeka (yakni menikahi hamba sahaya setelah memperistri wanita merdeka)'."