سنن الدارقطني ٣٤٨٠: نا ابْنُ أَبِي دَاوُدَ , نا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , أنا ابْنُ جُرَيْجٍ , حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى , أَنَّ ابْنَ شِهَابٍ أَخْبَرَهُ , أَنَّ عُرْوَةَ أَخْبَرَهُ , أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ , فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَالْمَهْرُ لَهَا بِمَا أَصَابَ مِنْهَا , فَإِنْ تَشَاجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ»
Sunan Daruquthni 3480: Ibnu Abu Daud menceritakan kepada kami, Ahmad bin Shalih menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Musa menceritakan kepadaku, bahwa Ibnu Syihab mengabarkan kepadanya, bahwa Urwah mengabarkan kepadanya, bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya, bahwa Nabi SAW bersabda, "Wanita mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya tidak sah, nikahnya tidak sah, nikahnya tidak sah. Jika ia sudah terlanjur digauli maka ia berhak mendapat mahar lantaran itu. Jika mereka berselisih, maka pemerintah adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali."