سنن الدارقطني ٣٥٠٢: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , نا ابْنُ وَهْبٍ , أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ , عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَشَجِّ , أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ , يَقُولُ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ , قَالَ: «لَا تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ إِلَّا بِإِذْنِ وَلِيِّهَا أَوْ ذِي الرَّأْيِ مِنْ أَهْلِهَا أَوِ السُّلْطَانِ»
Sunan Daruquthni 3502: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yunus bin Abdul A'Ia menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, Amr bin Al Harits mengabarkan kepadaku, dari Bukair bin Al Asyaj bahwa ia mendengar Sa'id bin Al Musayyab berkata: dari Umar bin Khaththab, dia berkata, "Janganlah wanita menikah kecuali dengan izin walinya, atau orang bijak dari keluarganya, atau penguasa."