سنن الدارقطني ٤٠٨٢: نا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ صَالِحٍ الْكُوفِيُّ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ دِينَارٍ الْفَارِسِيُّ , نا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ , نا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ , نا سُلَيْمَانُ بْنُ مُعَاذٍ , عَنْ سِمَاكٍ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " آخَى بَيْنَ أَصْحَابِهِ فَكَانُوا يَتَوَارَثُونَ بِذَلِكَ حَتَّى أُنْزِلَتْ {وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ} [الأحزاب: 6] الْآيَةَ , فَتَوَارَثُوا بِالنَّسَبِ "
Sunan Daruquthni 4082: Al Hasan bin Ahmad bin Shalih Al Kufi menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Dinar Al Farisi menceritakan kepada kami, Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Daud Ath-Thayalisi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Mu'adz menceritakan kepada kami dari Simak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW mempersaudarakan antara para sahabatnya, kemudian mereka saling mewarisi karena hal itu hingga turunnya ayat, "Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)" (Qs. Al Anfaal [8]: 75) lalu mereka saling mewarisi berdasarkan nasab (garis keturunan).