hadith book logo

Sunan Daruquthni

21. Wasiat

سنن الدارقطني

4243
Sunan Daruquthni
Albani: Yakni bahwa harta hanya digunakan untuk kehidupan. Adapun orang yang telah meninggal, maka hartanya menjadi milik orang lain (baca; ahli waris), sehingga dia tidak lagi berhak menggunakannya. Namun dengan rahmat Allah, Allah memberikan kesempatan untuk menggunakan sepertiga hartanya (untuk diwasiatkan setelah meninggal), sehingga dengan begitu, walaupun setelah meninggal dia masih menggunakan hartanya. Demikian juga shalatnya orang-orang yang menyalatkan jenazah, pahalanya untuk mereka, bukan untuk mayat yang dishalatkan, sehingga semestinya si mayat tidak mendapat manfaat dari itu, karena manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Namun dengan rahmat Allah, Allah menjadikannya mendapatkan manfaat baginya, sehingga seolah-olah, dia sendiri yang mengupayakan itu. (Syarh Sunan An-Nasa 'i). Isnadnya dha‘if. HR. Ibnu Majah dan di dalam Musnad Ibnu Umar (52). Di dalam isnadnya terdapat Mubarak bin Hassan, yang dinilai dha‘if. Biografinya telah dikemukakan sebelumnya. Lihat Al Mizan (4/350).
سنن الدارقطني ٤٢٤٣: نا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْمُقْرِئُ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ أَبِي الْعُبَيْسِيِّ , نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى , أنا الْمُبَارَكُ بْنُ حَسَّانَ , عَنْ نَافِعٍ , قَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ اثْنَتَانِ لَمْ تَكُنْ لَكَ , وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا جَعَلْتُ لَكَ نَصِيبًا مِنْ مَالِكَ حِينَ أَخَذْتُ بِكَظَمِكَ لِأُطَهِّرَكَ بِهِ وَلِأُزَكِّيَكَ , وَصَلَاةُ عِبَادِي عَلَيْكَ بَعْدَ انْقِضَاءِ أَجَلِكَ "
Sunan Daruquthni 4243: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ismail Al Muqri menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ishaq bin Abu Al Anbas menceritakan kepada kami, Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, Al Mubarak bin Hassan mengabarkan kepada kami dari Nafi', dia berkata: Ibnu Umar berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Wahai anak Adam. Dua hal yang kamu tidak berhak terhadap satu pun darinya (kecuali dengan rahmat-Ku). Aku jadikan untukmu bagian dari hartamu ketika Aku mengambilnya saat kematianmu untuk membersihkanmu dan menyucikanmu dengannya, dan doa para hamba-Ku untukmu setelah tibanya ajalmu.”
4244
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya sangat dha'if. HR. Ibnu Majah (2705) dari Baqiyyah dengan isnad tersebut. Baqiyyah adalah perawi yang dha‘if lagi mudallis. Biografinya telah dikemukakan lebih dari sekali. Gurunya adalah Khulaid bin Abu Khulaid, tidak dikenal. (At-Taqrib, 1/227). Abu Hulais juga tidak dikenal. (At-Taqrib, 2/413)
سنن الدارقطني ٤٢٤٤: نا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَارِثِ , نا بَقِيَّةُ , عَنْ خُلَيْدِ بْنِ أَبِي خُلَيْدٍ , عَنْ أَبِي حَلْبَسٍ , عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ , [ص:263] عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ فَأَوْصَى وَكَانَتْ وَصِيَّةً عَلَى كِتَابِ اللَّهِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا تَرَكَ مِنْ زَكَاتِهِ»
Sunan Daruquthni 4244: Al Husain bin Muhammad bin Sa'id menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Al Harits menceritakan kepada kami, Baqiyyah menceritakan kepada kami dari Khulaid bin Abu Khulaid, dari Abu Halbas, dari Mu'awiyah bin Qurrah, dari ayahnya, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa menjelang wafat berwasiat, dan wasiatnya sesuai dengan Kitabullah, maka itu menjadi tebusan bagi zakat yang dilewatkannya'.'
4245
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya dha'if. HR. Ahmad (6/441), Al Bazzar (2/139), dan Al Baihaqi (6/269) dari beberapa jalur yang dha'if. Di dalamnya terdapat Isma'il bin Ayyasy dan gurunya, Utbah bin Humaid, pada keduanya ada kedha‘ifan.
سنن الدارقطني ٤٢٤٥: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْصُورٍ الْفَقِيهُ , نا سُلَيْمَانُ ابْنُ بِنْتِ شُرَحْبِيلَ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , نا عُتْبَةُ بْنُ حُمَيْدٍ , عَنِ الْقَاسِمِ , عَنْ أَبِي أُمَامَةَ , عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ تَصَدَّقَ عَلَيْكُمْ بِثُلُثِ أَمْوَالِكُمْ عِنْدَ وَفَاتِكُمْ زِيَادَةً فِي حَسَنَاتِكُمْ لِيَجْعَلَهَا لَكُمْ زَكَاةً فِي أَعْمَالِكُمْ»
Sunan Daruquthni 4245: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Manshur Al Faqih menceritakan kepada kami, Sulaiman bin binti Syurahbil menceritakan kepada kami, Ismail bin Ayyasy menceritakan kepada kami, Utbah bin Humaid menceritakan kepada kami dari Al Qasim, dari Abu Umamah, dari Mu'adz Ibnu Jabal, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian ketika kalian wafat sebagai tambahan untuk kebaikan-kebaikan kalian, yaitu dijadikan-Nya sebagai penyuci pada harta kalian.”
4246
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya shahih. HR. Al Bukhari (4/2), Muslim (Pembahasan: wasiat, 1), An-Nasa'i (6/239), Malik (761), dan Abu Daud (2862) dari Nafi' dengan isnad tesebut.
سنن الدارقطني ٤٢٤٦: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ , نا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ ح وَنا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَلَّى الشُّونِيزِيُّ , نا مَحْمُودُ بْنُ خِدَاشٍ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا أَيُّوبُ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا حَقُّ امْرِئٍ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ وَلَهُ مَالٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»
Sunan Daruquthni 4246: Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Daud bin Rusyaid menceritakan kepada kami, Ismail bin Ulayyah menceritakan kepada kami (h) Dan Muhammad bin Al Mu'alla Asy-Syunizi menceritakan kepada kami, Mahmud bin Khidasy menceritakan kepada kami, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami dari Nafi', dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Adalah tidak hak bagi seorang muslim (membiarkan hari) berlalu hingga dua malam sementara ia memiliki harta yang hendak diwasiatkan, kecuali jika wasiatnya telah tertulis di sisinya."
4247
Sunan Daruquthni
سنن الدارقطني ٤٢٤٧: نا عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الدَّرَنِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ الْقُرَشِيُّ , نا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ , نا أَيُّوبُ , عَنْ نَافِعٍ , [ص:265] عَنِ ابْنِ عُمَرَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ مَالٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ وَيَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»
Sunan Daruquthni 4247: Umar bin Ahmad bin Ali Ad-Darbi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al Walid Al Qurasyi menceritakan kepada kami, Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami dari Nafi', dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tidaklah hak bagi seorang muslim yang mempunyai harta yang hendak diwasiatkan, (membiarkan hari) berlalu hingga dua malam, kecuali wasiatnya telah tertulis di sisinya.
4248
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya dha‘if karena di dalamnya terdapat Ubaidullah bin Tammam yang dinilai dha‘if oleh AdDaraquthni, Abu Hatim, Abu Zur'ah, dan yang lain. (Al Mizan, 3/401).
سنن الدارقطني ٤٢٤٨: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ لَقْلُوقٌ , نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ تَمَامٍ , عَنْ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «مَا يَنْبَغِي لِرَجُلٍ أَتَى عَلَيْهِ ثَلَاثَةٌ وَلَهُ مَالٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ إِلَّا أَوْصَى فِيهِ»
Sunan Daruquthni 4248: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far Laqluq menceritakan kepada kami, Ubaidullah bin Tammam menceritakan kepada kami dari Yunus bin Ubaid, dari Al Hasan, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah layak bagi seseorang (membiarkan hari) berlalu hingga tiga malam, sementara ia mempunyai harta yang hendak diwasiatkan, kecuali ia telah mewasiatkannya.''
4249
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya dha'if mungkar. HR. Adz-Dzahabi di dalam Al Mizan (4/144) dalam biografi Umar bin Al Mughirah. Al Bukhari mengatakan, "Haditsnya mungkar." HR. Al Baihaqi (6/271) dari Umar bin Al Mughirah dengan isnad tersebut.
سنن الدارقطني ٤٢٤٩: نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ الْمُهْتَدِي بِاللَّهِ , نا بَكْرُ بْنُ سَهْلٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ , نا عُمَرُ بْنُ الْمُغِيرَةِ , نا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدَ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «الْإِضْرَارُ فِي الْوَصِيَّةِ مِنَ الْكَبَائِرِ»
Sunan Daruquthni 4249: Ubaidullah bin Abdushshamad bin Al Muhtadi Billah menceritakan kepada kami, Bakr bin Sahl menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami, Umar bin Al Mughirah menceritakan kepada kami, Daud bin Abu Hind menceritakan kepada kami dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Menimbulkan 'mudharat di dalam wasiat termasuk dosa-dosa besar."
4250
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya hasan mauquf. HR. Al Baihaqi (6/281) dari jalur penulis dengan isnad tersebut.
سنن الدارقطني ٤٢٥٠: نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ , نا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو , نا أَبُو إِسْحَاقَ , عَنِ ابْنِ عَوْنٍ , عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: " لِيَكْتُبِ الرَّجُلُ فِي وَصِيَّتِهِ: إِنْ حَدَثَ بِي حَدَثُ مَوْتٍ قَبْلَ أَنْ أُغَيِّرَ وَصِيَّتِي هَذِهِ "
Sunan Daruquthni 4250: Ismail bin Muhammad Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Abbas bin Muhammad menceritakan kepada kami, Mu'awiyah bin Amr menceritakan kepada kami, Abu Ishaq menceritakan kepada kami dari Ibnu Aun, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, dia berkata, "Hendaklah seseorang menuliskan di dalam wasiatnya: Bila ajal menjemput diriku sebelum aku merubah wasiatku ini'.
4251
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya munqathi'.
سنن الدارقطني ٤٢٥١: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يُوسُفُ بْنُ سَعِيدٍ , نا حَجَّاجٌ , عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ , عَنْ عَطَاءٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَجُوزُ الْوَصِيَّةُ لِوَارِثٍ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ الْوَرَثَةُ»
Sunan Daruquthni 4251: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yusuf bin Sa'id menceritakan kepada kami, Hajjaj menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Atha‘ dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:



"Tidak sah wasiat untuk pewaris, kecuali bila para ahli waris menghendaki."
4252
Sunan Daruquthni
Albani: Isnadnya dha‘if karena di dalamnya terdapat Isma'il bin Muslim, yaitu Al Makki, seorang ahli fikih, namun haditsnya dha‘if. (At-Taqrib, 1/75)
سنن الدارقطني ٤٢٥٢: نا عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عِيسَى , نا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَاسَرْجِسِيُّ , نا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ , نا زِيَادُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُسْلِمٍ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ عَمْرِو بْنِ خَارِجَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ إِلَّا أَنْ يُجِيزَ الْوَرَثَةُ»
Sunan Daruquthni 4252: Ali bin Ibrahim bin Isa menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad Al Masarjisi menceritakan kepada kami, Amr bin Zurarah menceritakan kepada kami, Ziyad bin Abdullah menceritakan kepada kami, Ismail bin Muslim menceritakan kepada kami dari Al Hasan, dari Amr bin Kharijah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:



"Tidak ada wasiat untuk pewaris, kecuali para ahli waris membolehkan."